Strategi Digital Branding di Masa Pandemi

 

Dalam pemahaman umum, digital branding merupakan upaya membangun suatu brand secara daring. Digital branding dilakukan untuk menemukan nilai dari sebuah brand. Secara konvensional, ada dua hal yang menjadi perhatian dalam membangun bisnis, yaitu tujuan dari bisnis itu sendiri dan tujuan target audience. Ketika kedua hal ini tumpang tindih, maka kita akan menemukan nilai dari bisnis kita. Maka di sini lah digital branding berperan.

Beberapa strategi digital branding yang efektif adalah membuat logo dan website, brand messaging, penggunaan SEO (Search Engine Optimization), media sosial, pemasaran lewat e-mail, pemasaran secara daring, serta content dan influencer marketing. Di masa pandemi ini, pertanyaan yang muncul adalah apakah strategi membangun branding mengalami perubahan?

Sebelumnya, mari kita lihat apa saja yang terjadi selama masa pandemi. Di Indonesia, PSBB menyebabkan pembatasan kontak fisik dan membuat orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di internet. Dilansir dari DataReportal, jumlah pengguna internet sekarang mencapai 4.57 miliar. Pengguna media sosial, sejak April 2019 hingga April 2020, mengalami kenaikan drastis hingga 7%. Tidak diragukan lagi, selama masa pandemi, media sosial menjadi sarana utama dalam penyebarluasan informasi, khususnya informasi terkini mengenai COVID-19. Forbes.com melaporkan bahwa dalam satu hari saja (28 Februari 2020), ada sekitar 6.7 juta orang yang menyebutkan corona virus di media sosial.

Maka dari itu, media sosial menjadi strategi paling efektif selama masa pandemi. Yang bisa kita lakukan sebagai pemilik bisnis adalah pembuatan konten-konten menarik di berbagai platform media sosial. Salah satu platform media sosial yang selama masa pandemi mengalami peningkatan dalam jumlah penggunanya adalah TikTok. Dilansir dari thedrum.com, jumlah pengunduhan aplikasi TikTok telah melampaui 2 miliar downloads dan disebut-sebut sebagai jumlah unduhan terbesar dalam satu kuartal. Oleh karena itu, banyak pemiliki bisnis yang mengembangkan strategi brandingnya lewat platform TikTok. Mereka mencoba memviralkan produk sehingga bisa tercipta suatu citra yang bagus dan kepercayaan dari audience.

Hal-hal penting yang harus kita perhatikan adalah adanya perubahan tiba-tiba dalam perilaku dan minat pelanggan. Masa pandemi membuat orang-orang mengubah kebutuhan mereka. Misalnya dalam segi kebutuhan sehari-hari, orang-orang kini lebih banyak menghabiskan pendapatan mereka untuk makanan atau bahan pokok. Bagi generasi Milenial dan Z, mereka mendambakan produk yang unik dan kreatif yang mampu mengisi waktu luang mereka selama pandemi. Pemilik bisnis/brand harus bisa menganalisis dan mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh audience, serta apa yang bisa membuat brand mereka berbeda dan unik dari brand yang lainnya.

Apakah ada hal lain yang harus kita perhatikan dalam upaya branding melalui media sosial? Tentu ada, yaitu empati. Masa pandemi berbeda dengan masa-masa sebelumnya karena dalam masa ini, rasa empati dan kepedulian seseorang terhadap orang lain meningkat—dengan kata lain, semua orang di seluruh belahan dunia merasakan hal yang sama. Untuk brand yang memang memilih untuk mengkomunikasikan isu pandemi kepada audience-nya, maka tantangan yang harus dihadapi adalah bagaimana brand tersebut bisa menyampaikan pesan yang mendukung pemerintah daerah dan organisasi kesehatan, namun dengan tetap berpegang teguh pada nilai brand mereka. Contoh dari strategi branding yang juga menyampaikan pesan mengenai isu COVID adalah brand GoFood. Selama masa pandemi, GoFood ikut mempopulerkan tagar #DiRumahAja. Tagar ini mempromosikan gerakan untuk tetap berada di rumah demi menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Strategi efektif dalam membangun branding secara digital mungkin tidak mengalami perubahan yang signifikan dari masa sebelum pandemi karena sarananya yang tidak berubah. Meskipun begitu, strategi digital branding mengalami pengoptimalisasian. Pengoptimalisasian ini dilakukan lewat beragam channel media sosial. Dari data mengenai penggunaan media sosial yang terus mengalami peningkatan di masa pandemi ini, target audience di media sosial menjadi lebih besar. Strategi branding lewat media sosial bisa dilakukan dengan memviralkan brand, berkolaborasi dengan influencers, dan tentu saja mencoba untuk mengkomunikasikan isu mengenai COVID dan kesehatan diri (misalnya dengan cara storytelling). Sebagai tambahan, pemilik bisnis atau brand di masa pandemi tentunya harus bisa mengembangkan ide-ide yang inovatif dan kreatif yang disesuaikan dengan target pasar. Dengan begitu, terbentuklah kepercayaan audience dan citra yang baik terhadap brand yang ditawarkan.

Leave a comment